Indahnya sebuah kehidupan ketika aku melihat dia tersenyum, melihatnya terus mencari jati diri, mendapatkan apa yang dia inginkan dan sampai tahap dimana dia sadar bahwa dia tersenyum bukan untuk dirinya. tetapi untuk orang yang dia cintai. Aku termenung ketika dia bercerita dibalik senyumnya menyimpan kegetiran malam yang sangat dalam.
Dia adalah sosok yang kuat yang mampu bertahan akan setiap kepahitan yang menerjang ketika dia berjalan, dia mengatakan bahwa hidupnya tak pernah menerima cinta yang sesunguhnya seperti orang yang lain dapatkan. Dia melupakan keinginannya agar orang- orang yang dicintai tersenyum. Sungguh gelap perjalanan yang dia alami, tetapi aku tahu dan sadar bahwa dia mampu melewatinya. Dia berkata mendapatkan kekuatan bukan hanya dari orang lain tetapi yang paling banyak adalah kekuatan yang berasal dari diri sendiri.
Dia adalah anak tertua dari empat bersaudara mempunyai keluarga yang tidak harmonis , ayah dan ibu sering berantam sehingga dia tidak mendapatkan kasih sayang. Dari kecil tidak mendapatkan mendapatkan kasih sayang seperti orang lain. Orang tuanya tidak seperti orang lain yang berantam sembunyi-sembunyi tetapi bertengkar didepan anak-anaknya, mereka saling memukul didepan anak-anak. Dari dulu dia merasakan, bahwa dia menjadi beban bagi orang tuannya. Mamak dan bapak suka bercerita kepadanya, segala beban mereka lampiaskan kepadaku karena dia anak yang paling tua. Sehingga melihat orang tuanya mempunyai cerita sendiri-sendiri, bapak punya cerita sendiri , mamak juga punya masalah sendiri. Seharusnya mereka saling terbuka, dan saling bercerita. Sehingga mereka tidak berantam dan melampiaskan keanak-anak.
Sehingga dari kecil dia menjadi anak yang pendiam dan anak yang penurut . satu sisi karena ayahnya galak, ayahnya kalau mau mukul langsung pukul,kalu mau tendang, langsung menendang. Sehingga aku menjadi lebih takut. Sehingga aku juga menjadi anak yang tidak bisa bercerita kepada mereka, isi hatiku dan pemikiranku. Sehingga proses perkembanganku sekarang menjadi orang yang tidak banyak bicara dan tidak bisa terbuka. Dan waktu kecil juga aku tidak seperti anak lain yang mempunyai banyak teman, suka bermain, namun aku sendiri tak punya banyak teman. ayahnya adalah orang pemabuk dan perokok. Namun dia salut dengan ibunya , dia menjadi contoh baginya, walaupun mamanya juga salah sebagai orang tua, sebagai seorang ibu. dia menilai mamanya seorang yang kuat.
dan dari semua itu aku belajar dari mamaku. Aku juga belajar mendoakan mereka, terutama papa supaya berubah. Iya, ayahnya berubah sebelum meninggal walupun singkat, ayah berbuat baik kepada keluarga. Sebelum ayahnya meninggal . hari-hari terakhir itu, Dia merasakan apa arti keluarga, ayah dan mama sudah akur, waktu itu juga dia mengajak jalan-jalan keluar, sehingga akhirnya dia merasakan arti keluarga yang sesungguhnya. Merasakan kehangatan keluarga seperti orang lain.. memang Tuhan tidak kasih umur yang lama kepada ayah , namun dia tetap merasakn hangatnya keluarga walupun tidak sampai 1 tahun. dia bersyukur ada kesempatan merasakan itu, tentang keluarga. Sehingga semenjak ayahnya meninggal, beban diberikan kepada mama. Dan juga mama dan keluarga ayahnya tidak akur dan tidak dekat dan dia melihat neneknya adalah orang yang egois hanya memikirkan uang. Pada saat Keluarganya ditahap kekurangan ekonomi, rumah dijual dagangan dijual oleh neneknya. Sehingga dia melihat keluarga neneknya tidak memperlakukan adil ke mamanya sehingga dia berkata kepada mama kita harus mengontrak rumah sendiri. Dan akhirnya mereka mengontrak rumah.
Sewaktu papanya meninggal itu adalah masa transisi dia. Dia mulai berubah untuk menjadi pribadi lebih baik. dia belajar menangulangi diri, dobrak diri, yakini diri sendiri, terbuka, berpikir dia pasti bisa melewatinya. Dia selalu bilang kepada dirinya sendiri aku pasti bisa. Dia juga mengatakan, bahwa dia menjadi dewasa sebelum waktunya. Dia menjadi dewasa dari permasalahan yang dia terima. Dia belajar bagaimana membantu mamanya, mengurangi beban mamanya, menjadi teladan bagi adik-adiknya. Walaupun dia kadang marah pada orang tua, dia ingin juga mendapatkan kasih sayang seperti adik-adiknya , mau merasakan perhatian mama. Tapi aku belajar paham ,otaknya mulai memahami dan mengerti, belajar mengerti diri sendiri, belajar mengerti mama dan adik-adiknya, mengerti keadaan sekitarnya. Dia sudah merelakan dan berkata yasudah aku baik-baik saja, itu tangung jawabku sebagai kakak, dia belajar ini memang porsi dia dalam menerima beban. Ini tangung jawabnya, dan belajar gorbanin diri sendiri.
Aku harus bisa. Itulah yang membuatku bisa kuat walupun sakit, porsiku memang beda dengan adik-adiku. dia juga tidak boleh minta lebih seperti adik-adiknya. diatas kemauanku yang tinggi aku mengalah , hadapi saja. Namun aku banyak marah, banyak geluh, banyak kecewa pada diri sendiri. tetapi Dia mulai belajar, tidak memikirkannya lagu karena tak ada gunanya.
Dia selalu bilang kediri sendiri aku baik-baik saja. Sehingga dia menjadi orang yang kuat dan menjadi sedikit tenang. Kuatku berasal dari diri sendiri dan dari orang lain. Walaupun mama tidak tau tentang aku , sakitnya aku tentang apa yang aku alami. Tetapi aku baik-baik saja. Dia melihat mamanya tersenyum maka dia pun bahagia.Dia kuat bukan dari orang lain tapi dari diri sendiri, ketika Dia bilang mampu, Dia bisa , Tuhan juga masih memberikan aku kesempatan sampai sekarang. Dia bisa melewatinya.
Dari ceritanya, aku sadar dan memahami, Itulah hidup bahwa hidup bukan untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain. Engkau akan sadar akan hal itu, setiap langkah kakimu membuat kita tahu bahwa hidup akan akan terasa sempurna ketika engkau mendengar orang lain. Bertahanlah setiap proses yang kau tempuh, dan nikmatilah bahwa hidup ini adalah perkara bagaimana kamu menghadapinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar